Jebakan Rindu Kelam

Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Tambahkan
...
4
Jebakan Rindu Kelam 
Karya: Triyas Sakdiah 
Editor: Muhammad Adam Hussein, S.Pd 

Jebakan Rindu Kelam - Puisi yang dihasilkan oleh Triyas Sakdiah berdasarkan curahan hatinya yang dituangkan dalam puisi. Dimana rasa rindu itu datang namun membawa kesesakan di batin. Seolah rindu yang dirasakan itu tak pernah diundang dan tak diinginkannya hadir. Namun terus saja mengusik kerinduan di dalam hati. 

Dalam Puisi Jebakan Rindu Kelam bahwa Triyas Sakdiah sebagai Pujangga Pemula tentunya harus banyak belajar dalam memilih kata untuk dijadikan kalimat. Jadi sungguh wajar kalau masih belum maksimal. Ia sudah memberanikan diri buat mencoba dan saya (editor) menghargai hal itu. Sehingga ia dapat mengetahui kekurangannya setelah puisi ini ditayangkan karena setelah puisinya langsung saya komentari. 

Puisi Jebakan Rindu Kelam 
Karya: Triyas Sakdiah 

Rindu itu datang lagi, 
Bersama kedinginan malam, 
Angin-angin menari-nari seolah mengejekku. 

Yang hanya bisa menahan kedinginan itu, 
Yang memvonisku untuk membisu manahan kedinginan. 

Ingin ku berlari, 
Namun angin-angin itu seolah mengikatku, 
Mencaci-maki, mencekikku malam itu Aku lemah tak berdaya. 

Komentar Editor 
Dapat kita pahami bahwa dalam penggunaan kata dalam kalimat puisi ini bersifat kalimat sederhana. Tidak menggunakan gaya bahasa malas melainkan ungkapan yang sebenarnya. Cenderung dari emosi menonjol karena sisi penolakan diri terhadap rindu yang dirasakannya. Ia memilih jalur puisi bebas tanpa keteraturan terhadap baris tiap baitnya juga belum ada ciri khas yang membedakan dengan puisi lainnya. Sebetulnya puisi ini terbilang singkat dikarenakan hanya beberapa baris saja. Tentu ini yang harus diperhatikan oleh Triyas Sakdiah untuk menciptakan yang cukup panjang di kemudian harinya. Agar ada kemajuan karena ditayangkannya puisi ini itung-itung melatih dan mengasah selain itu juga bisa mengetahui kekurangan yang ada dalam puisi yang diciptakannya. Kalimat yang terkesan peluapan emosinya besar seperti: mencaci-maki, mengejek, menvonis. Sebaiknya kalimat tersebut harus diperhalus lagi agar tidak terkesan sebagai orang yang pemarah. Misalnya mencaci-maki bisa diganti dengan mencela atau merendahkan, menvonis bisa diganti menghasut atau menuduh, mengejek bisa diganti dengan mengindahkan, merendahkan. 

Komentar dari Editor ini tak bermaksud menggurui melainkan untuk memberi pembelajaran diharapkan karya selanjutnya ada kemajuan yang meningkat menuju puisi yang berkarakter atau berkualitas tinggi. Ya pastinya harus sering berlatih menyusun puisi secara terus menerus lambat laun bakal menemukan ciri khas sendiri dalam berpuisi. Sehingga puisi yang dihasilkan bukan sekedar puisi melainkan ada pesan moral yang bermanfaat buat pembacanya hanya bisa dinikmati saja oleh perasaan. 

Puisi Jebakan Rindu Kelam ini dicukupkan sekian. Silahkan pembaca mengomentari puisi yang dihasilkan oleh Triyas Sakdiah. Berikanlah ia motivasi agar terus berkarya lebih baik. 

Biodata Pujangga 


Nama : Triyas Sakdiah 
TTL : Tangerang, 30 Januari 1996. 
Email Facebook : triyas.sakdiah.7@facebook.com 

Kata Kunci 
Puisi Jebakan Rindu Kelam, 
Puisi Kiriman dari Pengunjung dan Pembaca, 
Triyas Sakdiah. 

SUMBER ARSIP 

 Triyas Sakdiah dan Muhammad Adam Hussein, S.Pd (Editor). 
Jakarta Barat, 6 Oktober 2013. 

Baca Juga

Tersalin!

4 komentar

BACALAH SEBELUM BERKOMENTAR

Dilarang berkomentar dengan akun Unknow, akun Profil Tidak Tersedia, akun yang tidak dengan nama asli. Dilarang berkomentar dengan menaruh link didalam komentar baik link hidup maupun link mati.

Kenapa?
Karena kami tidak akan menayangkan komentar-komentar tersebut. Kami hanya menayangkan komentar yang relevan (sesuai dengan topik yang sedang dibahas) dan komentar yang berbobot dan bermanfaat. Tidak untuk komentar basa-basi seperti: nice info, keren gan, makasih infonya, mantap, dan lainnya. Jadi daripada sia-sia lebih baik ikuti aturan main berkomentar di blog ini.
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Saryono
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Fajar Lesmana