Transformasi Kutu Buku

Transformasi Kutu Buku

Created By: Irwansyah (Semester 6 PPKn B)                                                                                        
Editor By:Muhammad Adam Hussein (Semester 7 PPkn A)





Let’s open our mind as wide as possible.
Never old to learn.
Better late than never.



Istilah “Kutu Buku” sering kita dengar bukan?


Untuk siapa sih sebenarnya istilah “Kutu Buku” ini ditujukan? Saya yakin, pasti secara anggukan universal menjawab bahwa, istilah “Kutu Buku” diperuntukkan bagi orang yang rajin/gemar membaca buku, hamper setiap hari di dalam menjalani hidupnya ditemani dengan benda mati yang namanya buku atau istilah ini lebih tepat bagi setiap orang yang setiap harinya bergelut dengan buku. Ya, memang begitu kenyataannya.

Namun pernahkah Sobat menyadari bahwa ada yang salah (kurang tepat) dengan istilah tersebut? Pernahkah Sobat berfikir dua kali sebelum dengan lantangnya dan dengan serta merta orang yang seringkali membaca buku dengan sebutan “Kutu Buku” ?

Dengan segala kerendahan hati, penulis ingin menuangkan buah pikiran yang penulis pikir perlu untuk diulas agar istilah tersebut bisa direlevansikan dengan kondisi empiris yang seyogyanyatidak menjadi sebuah istilah yang menjadi distorsi konsep (distortion of conception) di dalam penggunaannya.

 Selanjutnya, mari kita buka kemampuan berfikir kita seluas jagat raya atau seluas apapun sampai tidak terhingga (let’s open our mind as wide as possible) karena dengan demikian kita tidak mengubah pola pikir (mind set) kita yang tadinya tertutup dan tanpa kerangka, menjadi terbuka, lebar, dan berpola, radikal, analitik, dan sistematis. Perlu ditekankan disini, hal kecil pun jika tidak sesuai dengan kaidah perlu diulas disinilah saatnya kita membuka pikiran kita tentang pendapat, betulkah Sobat?

Definisi Kutu dan Buku
Kutu:  Sejenis binatang kecil sebagai hama yang menghisap darah  orang atau binatang. (Pius Abdillah dalam KBI – Kamus Saku Bahasa Indonesia, Hal. 193)
Buku:  Beberapa lembar kertas berjilid yang dikadifikasi dan berisi tulisan-tulisan fiksi atau karya ilmiah untuk dibaca dan sebagainya. (Drs. Anwar Syarifuddin dalam Kamus Saku Bahasa Indonesia, hal. 54)

Dari kedua definisi diatas penulis yakin bahwa setiap orang dari kalangan manapun, dan dari profesi apapun mengetahui mana yang disebut kutu, mana pula benda mati yang dinamakan buku.

Dapat diidentifikasi dengan jelas kan persamaan dan perbedaan antara benda mati dan binatang sebagai simbol istilah.

Sahabat semua, …
Sayangnya kedua benda tadi  setelah menjadi kata majemuk dengan istilah “Kutu Buku”, pendapat penulis disini telah terjadi distorsi konsep (distortion of conception) dan disinilah letak ketidakrelevansian dengan kondisi empiris yang factual dewasa ini. Kenapa harus “Kutu” yang menjadi penggemar buku? Dengan kata lain, kenapa harus “Kutu” yang diidentikkan dengan seseorang yang gemar membaca buku?

Lalu, siapakah pencetus pertama sitilah kata majemuk “Kutu Buku”  ini? Yang pada dasarnya ditujukan kepada orang yang gemar dan selalu bergelut dengan buku.

Pembaca yang budiman,
Yang menjadi persoalan kenapa harus “Kutu”? Apakah ada sebuah kata pengganti yang lebih pantas dan kedengarannya lebih efisien dan lebih memiliki nilai-nilai etika dan estetika.

Karena, pada dasarnya telah kita ketahui bersama, bukan? Bahwa secara anggukan universal “Kutu” itu hina di mata manusia. Penulis yakin, bahwa tak ada satu pun orang di muka bumi ini yang akan membiarkan “kutunya” bersarang sebanyak mungkin dirambutnya. Kutu dapat menjadi akibat gatal-gatal dikepala, sebagai hama dan pengrusak bagi tanaman, mungkin juga sebagai pembawa penyakit bagi hewan peliharaan atau hewan ternak lain, dan sebagainya. Singkat kata, ya kutu sering diidentikkan dengan keburukan dan pencacimakian.

Jadi, artinya jika istilah kutu dipakai sebagai kata penambah pada kata buku ini seakan-akan orang yang kutu buku mempunyai pengaruh untuk mempengaruhi, istilah kutu sudah diartikan sebagai hama atau penyakit sebagai faktor penyebab yang dikuatirkan membawa pengaruh buruk bagi yang lainnya.  Tidak seharusnya bukan jika istilah kutu dipakai, lalu apa seharusnya yang dipakai? Nanti setelah di akhir wacana akan terjawab.

Tahukah Sahabat? Bahwa orang-orang hebat yang berpengaruh besar terhadap eksistensi ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, merupakan sosok-sosok yang gemar membaca pada masa hidupnya.

Penulis yakin, hamper semua orang di muka bumi ini tahu atau paling tidak pernah mendengar dengan nama-nama di bawah ini:
A.     Luar Negeri
         ¨  Socrates        ¨  Albert Einstein
         ¨  Plato              ¨  Barack Obama
         ¨  Aristoteles    ¨  Sigmund Freud
         ¨  Al Farabi       ¨  Charles Darwin
         ¨  Al Kindi         ¨  Alfred Binet
         ¨  Ibnu Sina      ¨  Daniel Goleman
         ¨  Imam Ghazali¨  Montesquieu
         ¨  Imam Syafi’i ¨  J.J Rousseau
         ¨  dan sebagainya.

B.     Dalam Negeri
         ¨    Ir. Soekarno                       
         ¨   Susilo Bambang Yudhoyono
¨       Dr. Muhammad Hatta
¨       RA. Katini
¨       KH. Ahmad Dahlan           
¨       dan sebagainya.                   

         Setelah Sahabat baca nama-nama sosok-sosok besar di atas, pernahkah terpikirkan oleh Sahabat, bahwa mereka orang yang malas membaca? Jawabnya, tentu tidak. Bukankah mereka berawal dari kutu buku? Sayangnya, jika kata majemuk kutu buku dipakai pada sosok besar tersebut tidaklah pantas malah terkesan hina. Untuk itu, kata majemuk kata kutu buku bias dianjurkan untuk diganti dengan Pecinta Buku bagi yang suka membaca buku dan mengkoleksinya, Konsumen Buku bagi yang gemar membeli dan mengkoleksi buku, Praktisi Buku bagi seseorang yang membaca buku kemudian menuangkan kembali menjadi tulisan baru alias menjadi penulis, dan sebegainya yang bias disesuaikan dengan subjek sebagai pelaku utama dalam memanfaatkan keberadaan buku. Jadi cukup jelaslah, jika istilah Kutu Buku tidak pantas pada subjek-subjek tertentu, malah Kutu Buku ini hanya bagi sekelompok orang yang ingin mempengaruhi dan dipengaruhi oleh tulisan yang ada dalam buku itu. Sedangkan tidak ada tindak lanjut, berbeda dengan Praktisi Buku setelah tau lalu mengamalkannya ke orang-orang yang belum tau, kalau Kutu Buku pengertiannya sebagai untuk dirinya sendiri.

         Seperti yang kita ketahui, ciri-ciri kutu buku yang diidentikan sebagai berikut:
1.       Berkaca mata;
2.      Memegang buku,
3.      Gaya rambut culun (belah dua atau belah hoe)

         Pembaca yang budiman …
         Perlu sekiranya kita renungkan bersama pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
¨      Apakah Sahabat gemar membaca?
¨      Sudahkah Sahabat membaca hari ini?
¨      Seberapa jauh kualitas Sahabat dan Penguasaan Sahabat terhadap subjek ilmu pengetahuan (Hard Skill or Soft Skill), berapa jumlah buku yang telah sahabat baca?
         
       Untuk itulah, mari kita bangun kembali budaya gemar membaca agar terbuka jendela dunia yang terang benderang.

         Lagi pula telah kita ketahui bersama bahwa:
         Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad Saw dari Allah SWT mengandung perintah: “Bacalah dengan nama Allah” (QS. Al-Alaq : 1). “Read in the Name of Your Lord (Allah) Whohas created (all that exists).” Perintah ini mewajibkan umat manusia untuk membaca, artinya pengetahuan harus dicari salah satunya lewat membaca agar dapat melepaskan diri dari kegelapan di zaman yang modern dan kemajuan teknologi yang sangat pesat dewasa ini.

         Sejujurnya, penulis merasa semakin hari semakin bodoh, jadi mulai saat ini penulis selalu berusaha meluangkan waktunya untuk membaca walau hanya beberapa halaman saja.

¨ Lebih baik aku menjadi batang pohon kelapa yang berdiri kokoh, daripada ribuan dedaunannya yang mudah tergoyahkan. ¨

         Catatan Editor (Muhammad Adam Hussein):
         Setiap apa yang ditulis itu menjadi daya mempengaruhi, dan setiap apa yang dibaca akan mempengaruhi, dalam pola pandang, gaya hidup, sikap dan tindakan, maka untuk perlu untuk memilih-milih buku yang berkualitas, agar pengaruh baik yang akan merasuki ruang akal pikir dan hati kita. Membaca sebetulnya bukan melalui buku semata, bisa membaca dari situasi lingkungan, dan hal lainnya.

         Kritik dan Saran mohon dikirim ke:
         Irwansyah_Gebeg
         Irwansyah Gebeg


         Editor: Muhammad Adam Hussein
         FB/Email: dewapuitis@ymail.com
            www.adamsains.us


Daftar Pustaka:
Drs. Anwar Syarifuddin dalam Kamus Saku Bahasa Indonesia, hal. 54
Pius Abdillah dalam KBI – Kamus Saku Bahasa Indonesia, Hal. 193


Gambar:
http://t3.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcQ7Sq70WzNPFbC2tWjgLkkMdfjwL8YeRa9tkPirWhWL37-tybValA

2 Komentar untuk "Transformasi Kutu Buku"

  1. Sepertinya begitu kita salah menilai seorang kutu buku.

    Seringkali di lingkungan masyarakat kutu buku itu diejek padahal ia sangat berjasa karena menjadi buku berjalan.

    Makasih mas udah ngasih pencerahan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya betul neng, jadi ini artikel dapat dijadikan pencerahan tentang definisi kutu buku yang sebenarnya.

      Makasih kunjungannya!

      Hapus

BACALAH SEBELUM BERKOMENTAR

Dilarang berkomentar dengan akun Unknow, akun Profil Tidak Tersedia, akun yang tidak dengan nama asli. Dilarang berkomentar dengan menaruh link didalam komentar baik link hidup maupun link mati.

Kenapa?
Karena kami tidak akan menayangkan komentar-komentar tersebut. Kami hanya menayangkan komentar yang relevan dengan isi pembahasan artikel dan komentar yang berbobot dan bermanfaat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Teh Celup Herbal Bidara Ruqyah

Rp. 30.000 (isi 25 celup/belum ongkir)

PESAN MELALUI WHATSAPPS : 08997527700