Hikmah Belajar Membawa Diri

Hikmah Belajar Membawa Diri


Email/FB: dewapuitis@ymail.com





      Meniti jalan kehidupan, tidak semudah yang kita bayangkan, betapa tidak kita harus pandai-pandai memilih sikap dan tindakan mana yang lebih baik dan terbaik dari segala pilihan. Tanpa memiliki kemampuan memilih dan memilah niscaya berakibat fatal Saudaraku, kita bisa terbawa arus oleh jalan kehidupan yang salah.  Kita akan temukan pencerahan melalui belajar membawa diri, bacalah hingga tuntas. Saya tidak bermaksud menggurui hanya ingin berbagi.

      Hidup hanya satu kali dalam mengumpulkan bekal berupa amal kebaikan untuk hidup kelak di Akhirat, bisa ditempatkan di surga maupun di neraka, tergantung pada timbangan amal kebaikan selama hidup di dunia dan tergantung pada Rahmat Ilahi. Sebelum salah melangkah dalam menjalani hidup, perhatikan pergaulan kita sehari-hari. Sudahkah pergaulan kita sehat dan membawa berkah? Atau sebaliknya, membawa bencana dan derita. Ingat sekali lagi, kita sendiri yang menentukan kebaikan dan keburukan bagi diri sendiri.

      Pembawaan diri seseorang memang berbeda-beda tergantung pada latar belakang intelektual, pengalaman, dan tergantung kondisi iman seseorang. Ada yang mempunyai prinsip sendiri, dan ada juga yang hanya mengikuti prinsip orang lain (baca: pengikut). Ya, pergaulan sehari-hari itu yang menunjang seseorang berubah dari kebiasaan baik ke kebiasaan buruk atau syukur-syukur sebaliknya dari kebiasaan buruk ke arah kebiasaan baik. Maka tatkala ini terjadi dalam pergaulan, Nabi Muhammad Saw pun bersabda: “Seseorang itu tergantung agama temannya. Maka hendaknya salah seorang dari kalian melihat siapa temannya.” [HR. Ahmad dan At Tirmidzi] Bahwa, jika seorang teman yang memiliki karakter kuat dalam agama artinya sholeh/sholehah niscaya menulari kebiasaan baik, sebaliknya bila bergaul dengan seorang pemabuk, penjudi, pemain wanita, niscaya tak bisa dielakkan dari kebiasaan buruk yang menular sekalipun tanpa disadari. Itu cara Rasulullah dalam mengukur tabiat/sifat seseorang melalui deteksi teman dekatnya, dan hal itu bisa kita terapkan dalam kehidupan jika ingin mengenali karakter seseorang.

      Lebih jauh lagi, Nabi Muhammad Saw memberi perumpamaan dalam pengaruh pergaulan terhadap karakter seseorang. Dari Anas Ra, dia menuturkan,  Rasulullah Saw bersabda, “Dan perumpamaan teman duduk yang baik itu bagaikan penjual minyak wangi kasturi, jika minyak kasturi itu tidak mengenaimu, maka kamu akan mencium bau wanginya. Dan perumpamaan teman duduk yang jelek adalah tukang pandai besi, jika kamu tidak kena arangnya (percikannya), maka akan terkena asapnya.” [HR. Sunan Abu Dawud] Sampai disini, sudah jelas bahwa karakter pembawaan seseorang dipengaruhi juga oleh lingkungan pergaulan, bukan dari pembawaan keturunan (genetiknya) saja, sehingga kita juga disini perlu memfilter (menyaring) pengaruh buruk dari pergaulan buruk. Tak jarang orang bergaul dengan orang yang memiliki kebiasaan buruk katakanlah dengan pemabuk, selama segala kebiasaannya tidak ditiru atau tidak diikuti itu boleh-boleh saja. Tapi lain hal, apabila kebiasaan buruk mabuknya ternyata tanpa disadari terikuti, tentu kita harus menghindarinya artinya lebih baik tak berteman dengan orang yang memiliki kebiasaan buruk. Itu pilihan bijak, saya pikir. Sebab, jika pertemanannya berlanjut biasanya kebiasaan buruk tersebut tanpa disadari sudah menular hingga kita sendiri tak menyadarinya, saat merenungkannya barulah timbul kesadaran menyesali berteman dengannya.

      Ath-Thagra’i menulis dalam syairnya:
      “Musuh yang paling berbahaya adalah orang kepercayaanmu yang paling dekat. Waspadalah terhadap manusia dan pergaulilah mereka dengan hati-hati.”
     
      Pergaulan di masa kini, harus waspada karena banyak hal yang tidak mungkin bisa terjadi. Misalnya: teman yang dipercaya ternyata malah ingin menyesatkan, karena biasanya ada dorongan untuk mencari teman dalam memuaskan nafsunya dengan berbagai kebiasaan buruknya. Selain dari pengaruh lingkungan pergaulan, ada hal yang dapat membentuk pembawaan diri bisa saya sebutkan, diantaranya: televisi (terdapat pengaruh negatif yang perlu diawasi), media internet (terdapat informasi yang salah yang harus diselidiki terlebih dahulu kebenarannya), fashion (gaya pakaian yang seronok dibilangnya gaya modern), budaya modern (terdapat kecenderungan hidup bebas, cenderung mengarah ke jalur maksiat), dan sebagainya.

            Dapat saya uraikan Hikmah Belajar Membawa Diri, sebagai berikut:
1.       Dapat beradaptasi dengan lingkungan                    
      Sekalipun dalam keadaan lingkungan yang buruk, tapi pengaruh buruk tersebut dapat difilter sehingga tidak mempengaruhi perilaku dan sifat sehari-hari. Dengan begitu, dapat terhindar dari kehilangan jati diri, jika seseorang tiba-tiba mengikuti sekitarnya dalam keadaan seperti itu jiwanya sedang dikendalikan oleh keadaan dan jati dirinya menjadi jati diri orang lain yang ada disekitarnya.
2.      Dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar atau mana yang buruk dan mana yang baik secara akurat
      Kedewasaan semakin bertambah, tidak banyak mengalami dilema prinsip, karena dapat membedakan mana yang salah dan mana yang benar atau mana yang buruk dan mana yang baik secara akurat. Sebab, mengetahui dasar tolak ukur, menyadari konsekuensi atas perilaku atau sikap (dapat memperkirakan kejadian bila salah berbuat), cerdas memilih karena ketelitian yang diterapkannya, dan sebagainya.
3.   Dapat menjadi pribadi mandiri dan bertanggungjawab
      Dengan banyak belajar dari pengalaman orang atau pengalaman dirinya sendiri, akan memperbanyak wawasannya dalam bersikap seperti apa yang harus dilakukan ketika itu dalam keadaan yang membingungkan, keadaan yang menyakitkan, dan keadaan yang penuh misteri sekalipun. Sebab, dapat mengatasi masalah tersebut dengan berbagai menyediakan alternatif solusi (jika dalam keadaan solusi gagal maka menjalankan solusi kedua, dan seterusnya), mendidik dirinya menjadi mandiri dengan masalah yang dihadapi. Selain itu, rasa bertanggungjawabnya pun akan semakin mengakar tatkala kejadian tidak berpihak padanya, sebab menyadari jika menghindari masalah atau melempar kesalahan malah membuatnya menjadi tak bertanggungjawab. Jadi, berani menentukan pilihan sendiri dengan segala konsekuensinya.

      Nah dari sekian banyak penjelasan di atas, maka tibalah waktunya saya berikan saran-saran yang semoga bermanfaat bagi pembaca, diantaranya:

1.   Biasakan menyelidiki kebenarannya dahulu, sebelum percaya.
      Dari mana saja informasi yang kita dapat, jika sudah terselidiki kebenarannya maka kita boleh percaya. Sebabnya, jika kita asal percaya malah yang ada kena tipudaya, sedang resiko dan efeknya itu kita yang akan mengalaminya. Sebaiknya, berhati-hati. Sebagaimana dengan peringatan Ilahi Robbi firman yang berbunyi:

      Dalam AlQur’an, Allah berfirman: 
      “Dan  janganlah  kamu  mengikuti  apa  yang  kamu  tidak  mempunyai          pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan    hati, semuanya itu  akan  diminta pertanggungjawaban”.  [QS. Al Israa’ [17] : 36] 

      Rasulullah Saw bersabda,
      “Janganlah salah seorang di antara kamu jadi tukang ikut. Ia berkata, ‘saya bersama manusia, jika manusia berbuat baik maka saya berbuat baik, dan jika manusia berbuat buruk maka saya berbuat buruk’. Tetapi mantapkanlah dirimu. Jika manusia berbuat baik, maka kamu berbuat baik, dan jika mereka berbuat buruk maka jauhi keburukan mereka.” [HR. Tirmidzi diambil dari buku (Untuk) 13+ Remaja Juga Bisa Bahagia Sukses Mandiri karya Alwi Alatas, hal 69].

      Dari Abdullah bin ‘Umar, Nabi Muhammad SAW bersabda: 
      “Semua   kamu   adalah   pengembala dan   semua   akan  ditanyai  tentang  gembalaannya.  Imam  adalah  pengembala  dan ditanyai tentang gembalaannya”. 
[HR.  Ahmad,  Bukhari,  Muslim,  Abu  Dawud,  dan  Tirmidzi  dari Ibnu Umar diambil dari buku Kumpulan Kupas Tuntas Fenomena Remaja karya Muhammad Adam Hussein, hal. ]

      Jelas sekali, apa yang dipaparkan dari dalil di atas, menuntut kita untuk bertanggungjawab pada perilaku atau sikap yang kita ambil sebagai tindakan. Untuk itu, harus menyadari betul baik buruknya sesuatu tanpa harus menyembunyikannya walau sedikitpun.

2.   Jangan memojokkan orang lain.
      Perlu kita ketahui manusia mempunyai watak ingin diakui dan diterima status sosialnya. Jika orang tersebut memiliki watak jahat sekalipun pada dasarnya hatinya merasa hampa kasih saying, maka kita harus menerimanya, boleh jadi kita akan tau lebih banyak tentang latar belakang kehidupannya yang bisa kita pelajari dan pecahkan masalahnya. Dengan menerima sisi baik dan buruknya seorang teman sesuai wujud toleransi, maka kita akan semakin mudah dalam bergaul dengan berbagai macam karakter yang ditemui.

3.   Meluangkan waktu di waktu sibuk.
      Saya mengerti tiap orang mempunyai kesibukan masing-masing, jika ada luang waktu maka tak ada salahnya isi dengan berbincang-bincang dengan teman kita itu. Jangan sampai komunikasi terputus gara-gara kesibukan aktivitas sebab hal itu malah membuat renggang jika komunikasi tidak berlanjut. Sehingga satu sama lain saling tidak mempedulikan, yang akhirnya ada masalah dalam komunikasi yang apatis dapat menimbulkan permusuhan atau kecurangan.

4.   Jangan mengkritik yang negatif.
      Jika orang lain tidak membutuhkan kritikan kita, maka jangan mengkritiknya, sebab banyak yang mengeluh tentang persahabatan renggang dikarenakan kritikan yang negatif. Sebetulnya kita bisa menggarisbawahi, mengkritik boleh asal membangun bagi kemajuan orang tersebut, jika berniat menjatuhkan, berniat menyudutkan derajatnya, jangan dilakukan sebab itu tidak sesuai dengan perilaku yang dibenarkan oleh agama Islam. Sebab, Islam hanya membolehkan mengkritik untuk mengingat seseorang selebihnya jangan dilakukan.

5.   Tak segan-segan memberi pujian atas prestasi teman, sekalipun prestasi hanya sedikit.

6.   Jangan membual.
      Jangan memberi harapan dan janji-janji muluk, sebab hal itu jika tidak ditepati akan menimbulkan masalah besar. Jangan berbohong pada dirinya tentang baik buruknya ia, biarkan ia tau namun harus dengan bahasa halus agar dirinya tidak tersinggung.

7.   Menjaga rahasia orang lain.
      Jika kita dipercaya oleh seseorang, maka jagalah rahasianya, jika tidak kepercayaan akan hilang. Kepercayaan adalah modal utama kesuksesan dalam bergaul, jika kepercayaan hilang sama halnya gagal bergaul, sebabnya bakal terjadi perselisihan pendapat atau merasa tidak dihargai.

8.   Jadilah bagian dari orang lain.
      Bantulah, sebisanya kita bisa berupa uang, tenaga, atau pikiran untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh sahabat yang sedang mengalami masalah.

9.   Maklumi keterbatasan
      Tiap orang memiliki keterbatasan baik itu keilmuan, keahlian, kepemilikan barang maka hargailah jangan menyudutkan, atau membuatnya merasa iri, sebab hal itu bisa menyakiti perasaannya, bisa jadi di suatu hari ia mencari kesempatan untuk membalas perbuatan itu. Jadi, maklumi keterbatasannya tindakan bijaknya.

10. Jangan mendebat atas perbedaan pendapat
      Jika mendapati perbedaan pendapat baik itu prinsip hidup, prinsip bekerja, prinsip belajar, dan prinsip lainnya maka jangan mempermasalahkannya, harusnya menghargai perbedaan itu agar kita bisa hidup tenang begitupun dengan dirinya bisa tenang karena satu sama lain bertanggungjawab atas perilaku dan prinsipnya masing-masing. Sebab apabila pilihan prinsip itu sama maka tidak ada warna-warni dalam kehidupan ini.

      Akhir kata, selesailah artikel ini semoga memberikan pencerahan yang berarti bagi kita semua. Mohon maaf apabila penyusunan artikel ini kurang lengkap, terimakasih atas segalanya yang telah membaca artikel ini. Sampai jumpa di artikel lainnya.


Sumber Pustaka:

Alatas, Alwi. (Untuk) 13+ Remaja Juga Bisa Bahagia Sukses Mandiri. Penerbit Pena Pundi Aksara, Jakarta Selatan. Cetakan II, Agustus 2005. Hal. 69.

As-Suderi, Muhammad. Bahaya Teman. Penerbit Gema Insani Press, Jakarta. Cetakan Kesembilan, Agustus 2003. Hal. 5.

Depatermen Agama Republik Indonesia. Al-Quran dan Terjemahnya, Juz 1 Juz 30. Penerbit PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang.

Hussein, Muhammad Adam. Kumpulan Kupas Tuntas Fenomena Remaja. Penerbit CV. Adamssein Media, Sukabumi – Jawa Barat. Cetakan 1, Desember 2011. Hal.

Hussein, Muhammad Adam, S.Pd. Februari 2012. Hikmah Belajar Membawa Dirihttp://www.adamsains.us/2012/02/hikmah-belajar-membawa-diri.html

2 Komentar untuk "Hikmah Belajar Membawa Diri"

  1. artikel yang sangat mencerahkan jiwa..benar sekali perilaku kita memang terkadang terpengaruh oleh lingkungan atau teman dimana kita bergaul

    BalasHapus
  2. Muhammad Adam Hussein Adamssei1 Maret 2012 12.47.00 WIB

    Terimakasih, mohon dukungannya, artikel ini bakal dikirim ke Majalah Hidayah, sebelumnya yang pernah dimuat artikel saya yangHikmah Memandangi Langit di Majalah Hidayah, Edisi Juli 2010.

    BalasHapus

BACALAH SEBELUM BERKOMENTAR

Dilarang berkomentar dengan akun Unknow, akun Profil Tidak Tersedia, akun yang tidak dengan nama asli. Dilarang berkomentar dengan menaruh link didalam komentar baik link hidup maupun link mati.

Kenapa?
Karena kami tidak akan menayangkan komentar-komentar tersebut. Kami hanya menayangkan komentar yang relevan dengan isi pembahasan artikel dan komentar yang berbobot dan bermanfaat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Teh Celup Herbal Bidara Ruqyah

Rp. 30.000 (isi 25 celup/belum ongkir)

PESAN MELALUI WHATSAPPS : 08997527700