Renungan Jiwa Empati

Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Tambahkan
...
34

Renungan Jiwa Empati

Oleh: Muhammad Adam Hussein, S.Pd

Calon Motivator Spiritual




Renungan Jiwa Empati – Banyak orang yang suka kebingungan dalam membedakan mana simpati dan empati, tapi diantara keduanya yang paling ideal adalah empati. Kalau simpati, ia hanya bisa merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain tanpa berusaha meringankan bebannya itu, sedangkan empati sebaliknya ia akan berusaha semampunya untuk meringankan beban yang dirasakan oleh orang yang terdekat, orang yang disayanginya, atau orang lain. Nah, pada kesempatan kali ini penulis ingin mengajak pembaca jauh lebih dalam menyelami renungan jiwa empati, bersiap-siaplah menerima percikan yang luar biasa yang akan mengubah pembaca dari sifat yang egois menjadi lebih pengertian, dari sifat sombong ke rendah hati, dari sifat tidak menghargai sesuatu atau tidak menghargai orang lain menjadi lebih menghargai, dan perubahan positif lainnya. Semoga membantu dalam mengevaluasi diri kita dalam menuju pengembangan diri maupun pembenahan diri, silahkan menyimak!



Definisi Empati

Sejarah kata empati dalam bahasa Inggris (Empathy) ditemukan pada tahun 1909 oleh E.B. Titchener sebagai usaha dari menerjemahkan kata bahasa jerman, fenomena baru yang dieksplorasi oleh Theodor Lipps pada akhir abad 19. Setelah itu, diterjemahkan kembali ke dalam bahasa Jerman sebagai Empathie dan digunakan disana. [Lihat http://plato.stanford.edu/entries/empathy]


Ilustrasi Gambar Renungan Jiwa Empati
Ilustrasi Gambar Renungan Jiwa Empati


Dalam buku The 21 Principles to Build and Develop Fighting Spirit karya Wuyarnano (2007 : 72) berpendapat : Istilah empati digunakan pertama kali tahun 1909 (disesuaikan dengan sumber referensi Stanford Edu, sebelumnya ditulis 1920-an) oleh E.B. Titchener, ahli psikologi Amerika, yang memberikan teorinya yaitu: bahwa empati berasal dari semacam peniruan secara fisik atas beban orang lain, yang kemudian menimbulkan perasaan serupa pada diri seseorang.



Definisi empati secara etimologis (asal muasal kata), kata empati berasal dari kata Yunani, em dan pathete artinya, di dalam dan merasakan. Secara istilahnya dapat disimpulkan sebagai kemampuan untuk membaca perasaan orang lain. Lawan kata empati adalah antipati atau sikap membenci dan memusuhi orang lain. [dr. J.B Suharjo B. Cahyono, Sp.Pd, 176, lengkapnya lihat sumber referensi yang tersedia di bawah]



Definisi empati dalam buku Psikologi Sosial (2004 :111) adalah empati termasuk kemampuan untuk merasakan keadaan emosional orang lain, merasa simpatik dan mencoba menyelesaikan masalah, dan mengambil perspektif (sudut pandang) orang lain. [Lihat sumber referensi lengkapnya dibawah]



Definisi empati menurut Hodges, S.D., & Klein, K.J (2001) berpendapat bahwa empati adalah kemampuan dengan berbagai definisi yang berbeda yang mencakup spektrum yang luas, berkisar pada orang lain yang menciptakan keinginan untuk menolong, mengalami emosi yang serupa emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, mengaburkan garis antara diri dan orang lain. [Lihat sumber referensi lengkapnya dibawah]



Kesimpulan Definisi Empati

Empati secara sederhananya adalah kemampuan membaca perasaan yang dialami oleh orang lain dan juga bisa memposisikan diri apabila ia menjadi dirinya atau apa yang terjadi dialami juga olehnya.



BERBAGAI RENUNGAN JIWA EMPATI

Renungan Jiwa Empati Pertama

Kemampuan berempati merupakan kemampuan untuk mengetahui bagaimana perasaan orang lain. Empati dibangun berdasarkan kesadaran diri, dengan pengertian: semakin kita terbuka pada emosi diri sendiri, semakin terampil kita dalam membaca perasaan orang lain.



Semakin besar rasa empati seseorang, maka semakin besar pula kecenderungannya untuk selalu campur-tangan dalam membantu orang lain.

[Wuryanano, 2007 : 72]



Artinya, dalam jiwa seseorang tersebut ia mempunyai jiwa sosial yang tinggi dalam membantu peringanan beban yang dirasakan oleh orang lain yang ada di sekitarnya. Itu kepekaan perasaan yang luar biasa, karena tak mudah kita mengelola ego maupun emosi, jika keduanya  bisa dikendalikan maka rasa kepedulian pun akan meningkat jauh dari sebelumnya.



Pada kasusnya, orang yang berempati selalu berbaik sangka pada orang yang dikenalnya sekalipun ia enggak tahu kalau nantinya bisa dimanfaatkan. Namun ia selalu berbaik hati dengan secara tulus diberikannya. Karena ia merasa lega bila bisa membantu orang lain yang membutuhkan pertolongannya. Segala sesuatunya ia lakukan karena pengabdian dirinya pada Ilahi. Ini yang menjadi kekuatan dalam dirinya yang jarang sekali kita temukan di zaman modern yang serba modus.



Renungan Jiwa Empati Kedua

Hargailah segala kerja keras orangtua kita dalam mengusahakan yang terbaik untuk anaknya. Hargailah pula kerja keras sendiri dalam mengupayakan segala keinginan terpenuhi.

[Muhammad Adam Hussein, S.Pd, 2014 : www.adamsains.us]



Pada kasusnya, apabila kita seorang mahasiswa yang biasanya dibiayai oleh orangtua, maka cobalah sekarang kita yang mencari uang untuk membiayai kuliah, maka akan diketahui seberapa susahnya dalam mencari uang itu. Dengan begitu, kita bisa menghargai apa saja yang dilakukan oleh orangtua terhadap kita sebagai merasakan apa yang dirasakan oleh orangtua ketika berusaha. Ini juga akan mengajarkan diri kita mandiri. Dan itu juga yang idam-idamkan oleh orangtua bisa berdiri sendiri tanpa bergantungan pada orangtua, karena kelak kita akan jauh dari orangtua entah karena kerja atau juga karena menikah. Umumnya, pekerjaan swasta atau berwirausaha yang dapat menyadarkan kita dari tidak menghargai kerja keras orangtua.



Dalam memenuhi keinginan kita maka ada yang diperjuangkan, misalnya ingin membeli sesuatu yang disenangi maka akan mengumpulkan dulu uangnya dengan cara menabung. Dan menabung bukan perkara mudah apabila tidak istiqomah. Karena ada saja kebutuhan yang mendadak sebagai hambatan. Nah disini juga menjadi tantangan buat kita untuk bisa istiqomah dalam menabung. Dengan adanya perjuangan itu juga yang akan membuat kita terkenang bagaimana prosesnya dalam mencapai keinginan tersebut. Sehingga barang yang sudah kita beli biasanya akan terawat dengan baik berbeda bila uangnya dari orangtua seringkali barangnya sembrono dimana menyimpannya karena tidak merasa berat bagaimana mengumpulkan uangnya.  



Renungan Jiwa Empati Ketiga

Orang yang berempati,ia adalah termasuk pendengar yang baik juga sekaligus bisa memposisikan diri sebagai diri orang lain yang ingin ia dimengerti.

[Muhammad Adam Hussein, S.Pd, 2014 : www.adamsains.us]


Ilustrasi Gambar Cara Empati terhadap Orang Lain
Ilustrasi Gambar Cara Empati terhadap Orang Lain



Pada kasusnya, orang yang berempati maka ia akan mudah memahami untuk memaklumi kesalahan orang tidak lantas menyalahkan begitu saja melainkan ia akan bertanya tentang apa yang menjadi penyebabnya. Ketika kesalahan orang tersebut mengulangnya tak lantas memarahinya, lagi-lagi ia akan mencoba mengerti dengan memposisikan dirinya sebagai orang tersebut. Dan ternyata ketika empati yang sudah dilakukan tidak dihargai atau tidak dimengerti olehnya, maka kita tak lantas langsung kecewa ataupun kesal. Sebaliknya kita harus berusaha untuk selalu berbaik sangka padanya. Bisa jadi ia tidak mengerti apa-apa yang kita inginkan darinya sehingga ia tak lekas peka terhadap apa yang sudah kita lakukan. Bersabarlah, karena boleh jadi seiring waktu kedewasaan akan ada dalam dirinya. Dan saat itulah, ia akan mengerti mengapa kita berempati padanya bukan hanya menunjukkan simpati.



Ia akan selalu bisa mendengarkan curhatan kita sekalipun ia pernah disakiti. Karena ia memang tidak bisa melwan kata hatinya untuk membalas. Sebaliknya ia hanya akan lega ketika bisa merasakan apa yang dirasakan olehnya. Biasanya ini dalam hubungan cinta akan semakin lekat berkat ketulusannya.



Selain ketika seorang dokter yang memiliki sifat empati, ia juga akan menjadi pendengar baik pula, sehingga ia tahu bagaimana harus menjelaskan keadaan diri pasien yang sebenarnya dengan tidak membuat pasien lemah jiwa. Maka dokter yang berempati tersebut akan mudah diterima oleh pasiennya, dan kesembuhan bisa diperoleh karena kerjasama antara pihak pasien dengan pihak dokter yang hasil analisanya akurat karena dokter bisa memposisikan dirinya sebagai pasien. Sehingga ia tahu apa yang dibutuhkan pasiennya. Sebaliknya bila dokter yang tidak memiliki sifat empati, maka pasien tingkat kesembuhannya akan lama karena tidak ada kepercayaan dan juga tidak kerjasama yang baik. Disini pentingnya empati untuk seorang dokter.



Berbeda bila kita seorang guru ataupun motivator maka bila kita ingin diterima dengan baik apa yang disampaikan menjadi pembelajaran hidup atau wawasan yang bermanfaat untuk pendengarnya. Maka posisikanlah diri kita sebagai pendengar, sehingga kita tahu nantinya apa yang harus dihindari dan apa yang harus dipertahankan dari cara kita dalam menyampaikan sesuatu pesan moral/materi pembelajaran. Karena keberhasilan seorang guru atau motivator bisa dilihat seberapa besar pengaruh perubahan terhadap orang yang mendengarkannya. Jadi, semakin bijaknya murid kita maka ia sudah menemukan keutuhan dirinya menjadi lebih baik. Maka dengan itu, jangan gunakan cara pendekatan yang salah karena akan hanya membuat segalanya menjadi buruk. Misalnya, terlalu keras dalam mendidik, terlalu berangan-angan, suka muluk-muluk dalam bicara, dan juga yang tidak realistis.



Apalagi menjadi seorang ayah atau ibu bagi anaknya, maka ia harus bisa memperlakukannya dengan baik. Dengan cara membentak dan memarahi bukanlah cara yang terbaik sebaliknya itu yang paling parah, karena apa yang disampaikan tidak akan mengena di hati sang anak, sebaliknya anak akan membenci. Untuk itu, kita dengarkan keluhan sang anak, kenapa ia nakal di kelasnya, kenapa ia bolos sekolah, kenapa ia kurang berminat belajar dan lainnya, karena boleh jadi itu karena kurangnya perhatian khusus padanya sehingga ia merasakan kesepian yang menjadikan dirinya tidak peduli dengan lingkungannya maupun keluarganya. Jadi sudah seharusnya kita bisa menggunakan pendekatan dari hati ke hati dalam menyelesaikan permasalahan anak maupun keluarga. Agar kesalahpahaman bisa berhenti dengan segeranya. Dengarkanlah alasan dan jawaban dari sang anak lalu beri pengertian dan pengarahan dari kita sebagai orangtuanya.



Renungan Jiwa Empati Keempat

Orang yang berempati, ia termasuk orang yang bertanggungjawab dan ia lebih baik disakiti daripada ia menyakiti karena ia menyadari apa yang dirasakan apabila terjadi pada dirinya.

[Muhammad Adam Hussein, S.Pd, 2014 : www.adamsains.us]



Pernahkah kita menemukan seseorang yang rela memberi pengorbanan ataupun perjuangan yang harus dilewatinya demi seorang yang ia sayangi. Ia tak pernah lelah untuk selalu menyakinkan pasangannya. Sekalipun pada akhirnya, hasil yang sebaliknya, dimana ia ditinggalkan. Ia tak berani memutuskan hubungan ketika kebosanan jumpai olehnya, sebaliknya ia akan berusaha mempertahankannya. Jika setelah berusaha dan ketika itu harus gagal maka takkan menjadi lemah jiwa. Karena ia menyadari orang yang disayanginya bukanlah jodoh pilihan Ilahi, sehingga terjadi ketidakseimbangan dalam berbagi cinta.  



Renungan Jiwa Empati Kelima

Orang yang berempati suka saling meringankan beban saudaranya, keluarganya, tetangganya, bahkan orang yang tak dikenal.

[Muhammad Adam Hussein, S.Pd, 2014 : www.adamsains.us]



Ia mau melunasi hutang orang yang benar-benar kesulitan tanpa mengharap dibalas hutangnya. Ia menyatuni kaum fakir miskin termasuk pula anak yatim. Ia selalu berusaha dalam membantu orang lain yang membutuhkannya, karena ia sadar orang muslim lain adalah saudaranya. Dan masih banyak lagi sebetulnya, silahkan kembangkan sendiri.





KESIMPULAN

Pada dasarnya daya kekuatan empati dalam diri seseorang berbeda tingkat yang dimilikinya tergantung pada kualitas hati dan kualitas iman orang tersebut. Di zaman modern seperti ini, orang yang berempati sangat langka, kenapa karena masih banyak orang yang mencoba-coba dalam menjalani hubungan tanpa komitmen, masih banyak pula baik karena ada sesuatunya, masih banyak orang yang terlihat sholeh/sholehah namun itu hanya topeng atau penampilan belaka, dan masih banyak lagi yang tanpa kita sadari ia telah melakukan modus demi modus.



Empati yang dapat disimpulkan adalah kemampuan membaca perasaan yang dialami oleh orang lain dan juga bisa memposisikan diri apabila ia menjadi dirinya atau apa yang terjadi dialami juga olehnya.



SARAN  

Menjadi pribadi yang beriman maka harus bisa menanamkan sifat empati terhadap orang lain. Dengan cara begitu, maka keimanannya bukan hanya sebatas ilmu tapi sudah menjadi amal perbuatan kebaikan baginya. Ada yang menjadi inspirasi buat kita semua termasuk saya sendiri, yaitu dalil hadits berikut ini :



Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Saw bersabda:

“Barangsiapa yang meringankan beban orang beriman yang menderita di dunia ini. Allah akan meringankan penderitaannya di Hari Kebangkitan (Yaumil Hisab). Barangsiapa yang tidak peduli terhadap orang yang sedang dalam kesulitan, Allah tidak peduli kepadanya di dunia ini dan di hari kiamat. Barangsiapa melindungi seorang muslim, Allah akan melindunginya di dunia ini dan di hari kiamat. Allah akan membantu seseorang selama dia membantu saudaranya.”

[HR. Shahih Muslim, Hadits ke 2699]



Dan ada dua hadits lagi yang mengingatkan kita bahwa

“Dari Nu’man bin Basyir bahwa Rasulullah Saw bersabda :

Perumpaan orang-orang mukmin dalam hal kasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota merintih kesakitan maka sekujur tubuh badan akan merasakan panas dan demam.”

[HR. Muslim]



Dari Ibnu Umar ra., bahwa Rasulullah Saw bersabda :

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh ia menzalimi dan membiarkannya (dalam bahaya), siapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.”

[HR. Bukhari dan Muslim]



Itulah hadits di atas yang bisa kita jadikan pegangan dalam menanamkan sifat empati dalam diri kita masing-masing. Sudah sepantasnya kita menganggap saudara muslim sebagai saudara dari makhluk Allah, jangan sampai kita menganiaya orang lain karena kekuasaan atau karena keegoisan, jangan pula berbuat jahat baik itu mencuri, memperkosa, merampas atau kejahatan lainnya karena hal itu bisa terjadi juga pada saudara/keluarga kita yang tidak berdosa apa-apa.



Jadilah pribadi yang dirindukan oleh penghuni bumi maupun penghuni langit. Pasti akan selalu ditemukan kebahagiaan yang tak bisa diganti atau ditukar yang tak pernah terbayangkan akan keindahannya.



Renungan Jiwa Empati akhirnya dapat diselesaikan juga apa yang ingin saya sampaikan disini. Semoga dengan artikel yang sengaja saya bahas secara singkat dan padat ini bisa memenuhi wawasan yang ingin diketahui oleh kita semua. Semoga juga bisa segera direalisasikan dalam aplikasi kehidupan kita. Sampai jumpa.



Silahkan komentari :



1.   Bagaimana pandangan pembaca terhadap cara berpikirnya saya dalam artikel ini? ...



2.  Bagaimana gaya penulisan dan gaya pembahasannya menurut sobat pembaca? ...



3.  Bagaimana tanggapanmu setelah membaca artikel Renungan Jiwa Empati? ...


  











SUMBER REFERENSI



Baron & Byrne. Psikologi Sosial Jilid 2. Jakarta: Erlangga, 2004. Hal. 111.



dr. J.B Suharjo B. Cahyono, Sp.Pd. Meraih Kekuatan Penyembuhan Diri yang Tak Terbatas. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Hal. 176.



Hodges, S.D., & Klein, K.J (2001). Regulating The Costs Of Empathy: The Price Of Being Human. Journal of Socio-Economics.



Stanford Edu. Empathy. http://plato.stanford.edu/entries/empathy



Wuryanano. 2007. The 21 Principles to Build and Develop Fighting Spirit. Penerbit : PT. Elex Media Komputindo. Hal. 72




SUMBER GAMBAR

http://depoknews.com/wp-content/uploads/2014/07/Ramadhan-Bulan-Kita-Mengasah-Empati.jpg



 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEge1UMFBeFSLKp8gsMffHSS-hxeNIql62KXoIh5Ngm1y6Ep2SnU6dNLNS3-PU787TrmMUcUcDxe5_DUpG3yAKZ5WPZmZkfigdboNGZOFuX65JvEsiHDR_ijpfoY2cjZ5EohRLPcRuFyYiw/s1600/ilustrasi-gambar-empati-terhadap-seseorang-dalam-renungan-jiwa-empati.png



SUMBER ARSIP



Muhammad Adam Hussein, S.Pd

Renungan Jiwa Empati.

Jakarta Barat, 21 September 2014.



Baca Juga

Tersalin!

34 komentar

BACALAH SEBELUM BERKOMENTAR

Dilarang berkomentar dengan akun Unknow, akun Profil Tidak Tersedia, akun yang tidak dengan nama asli. Dilarang berkomentar dengan menaruh link didalam komentar baik link hidup maupun link mati.

Kenapa?
Karena kami tidak akan menayangkan komentar-komentar tersebut. Kami hanya menayangkan komentar yang relevan (sesuai dengan topik yang sedang dibahas) dan komentar yang berbobot dan bermanfaat. Tidak untuk komentar basa-basi seperti: nice info, keren gan, makasih infonya, mantap, dan lainnya. Jadi daripada sia-sia lebih baik ikuti aturan main berkomentar di blog ini.
Unknown
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Andriyatna
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Indra DP
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Mas Marnes
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Mang Lembu
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
ilham
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Unknown
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Alvi Kamal
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Kang Muroi
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Zian
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Kang Ucup
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
ali imron
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Beby
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Asep Haryono
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Yanto cungkup
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Unsyarifa
Muhammad Adam Hussein, S.Pd
Aldino Sya
Muhammad Adam Hussein, S.Pd