Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hitam Putih dalam Menulis

Hitam Putih dalam Menulis
Muhammad Adam Hussein

         Ketika jenuh biasanya mencari hiburan dari sebuah tulisan. Mungkin mencari dari Internet atau via GPRS? Majalah, buku, dan sebagainya! Nah, lantas apa maksud tulisan ?

Definisi Tulisan
         Tulisan menurut Istilah Bahasa merupakan melahirkan pikiran dan perasaan berupa tulisan. Tulisan secara Universal merupakan ungkapan yang terdalam memberanikan diri dalam melahirkan pikiran dan perasaan sendiri berupa tulisan yang dipersembahkan untuk pembaca. Tulisan sebagai komunikasi secara tertulis.

Kategori Tulisan
         Nah, selain itu ada 2 kategori tulisan. Seperti halnya dalam kehidupan kita; ada keburukan dan ada pula kebaikan; ada kegemerlapan dan ada pula kehakikian; ada kesirnaan dan ada pula kecahayaan; dan sebagainya. Nah, begitupun tulisan memiliki 2 kategori:
1.      Tulisan Bermakna
2.      Tulisan Indah Sesaat

Lantas apa, maksud Tulisan Bermakna itu?
         Tulisan Bermakna merupakan tulisan yang mengandung mendalam, luas, serta dominan terhadap anjuran kebaikan. Misalnya; tulisan tentang bahaya alkohol, tentang mengapa Islam Populer?, tentang Qurban, tentang ketidakbolehan merayakan hari valentine, dan masih banyak tema lain.

         Orang yang menulis tulisan bermakna itu akan mendapatkan ganjaran atau pahala dari Allah Sang Pencipta. Sebagaimana dalam hadits yang berbunyi :
“Barangsiapa memberikan petunjuk kebaikan, maka baginya akan mendapatkan ganjaran yang diterima oleh orang yang mengikutinya, dan tidak berkurang sedikitpun hal itu dari ganjaran orang tersebut.” (HR. Muslim).

         Bukan main, ganjaran untuk orang tulisan bermakna, iya kan? Selain itu, tulisan bermakna akan menjadi ilmu yang bermanfaat dan pahalanya tidak akan pernah hilang selama tulisan tersebut masih digunakan oleh seseorang. Sebut saja, karangan Imam Ghozaliyang terkenal dengan kitab yang berjudul Ihya Ulumuddin bertahun-tahun umur kitab tersebut, terkenal hingga kini karena didalamnya mengandung anjuran kebaikan yang hakiki dan tak bisa dipungkiri. Selain itu juga, kitab ini sudah diterjemahkan kedalam bahasa Eropa, Indonesia, Persia, Turki, dan sebagainya. Padahal Imam Ghozali sudah hampir 50 tahun lebih meninggal dunia. Ini namanya ilmu yang bermanfaat hingga namanya pun masih dikenal. Begitupun kita jika kita menulis tulisan bermakna pastinya banyak orang menyimpan kesan baik dan akhirnya menghasilkan pahala yang tidak ada duanya. Semoga kita selalu diberikan taufik dan hidayahnya. Amien.

         “Jika manusia telah meninggal maka putuslah amalnya kecuali tiga macam : 1. Sedekah Jariyah (yang tahan lama), 2. ilmu yang bermanfaat, 3. Anak Shaleh (berakhlak baik) yang mendo’akan kedua orang tuanya.” (HR. Muslim).

         Jadi, membuat tulisan bermakna ini akan menghasilkan amal kebaikan yang setidaknya bisa menyelamatkan hidup dunia dan akhirat kita. Apalagi kalau tulisan tersebut, bisa menjadi solusi atau jalan keluar bagi orang yang sangat membutuhkan, malah akan menghasilkan amal yang dua kalipat, bukan main? 

         Menolong seseorang secara tidak langsung, dari tulisan yang kita buat akan menghasilkan kebaikan. Sebagaimana hadits dibawah : 
         “Barangsiapa yang menolong orang yang sedang sengsara (kesulitan), maka Allah akan menetapkan pada orang itu dengan sebanyak 73 ampunan. Satu ampunan untuknya yaitu orang tersebut akan mendapatkan kebaikan untuk semua urusannya, sedangkan yang 72 macam lagi akan mendapatkan beberapa derajat ketinggian pada hari Kiamat.” (HR. Bukhari).

         “Barangsiapa yang berkeinginan untuk diselamatkan oleh Allah dari bencana pada hari kiamat, maka bantulah orang yang kesulitan atau hindarikanlah kesulitannya.” (HR. Muslim). 

         Tulisan bermakna dibuat secara berkala, lebih sukai oleh Alloh Sang Pencipta daripada tulisan bermakna tidak dibuat sama sekali. Bukankah ada istilah sedikit demi sedikit menjadi bukit dalam arti jika kita melakukan kebaikan sedikit demi sedikit akhirnya akan menghasilkan pahala yang besar. Sebagaimana dalam hadits : 
“Amalan (kebaikan) yang paling dicintai Allah yaitu yang dikerjakan dengan tetap, walaupun diamalkan sedikit.” (HR. Bukhari – Muslim).

         Dalam menulis yang mengandung tulisan bermakna, janganlah minder, mesti percaya diri, sekalipun Adamssein akui dalam keadaan paras yang sederhana. Karena Adamssein ingin mendapat pahala dari Allah tidak mencari pujian, maka dari itu niat itu menjadi penting dalam hal ini. Sebagaimana dalam hadits dibawah ini;
         “Sesungguhnya Allah Swt tidak akan melihat pada tubuh dan rupamu, tetapi ia akan melihat kepada hatimu dan amalmu (perbuatanmu).” (HR. Muslim).

         “Barangsiapa yang dikehendaki oleh Alloh untuk diberi kebaikan, maka orang itu memperdalam agama Islam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

         “Semua amal itu tergantung pada niatnya.” (Hadits Shahih).

         Rasululloh Saw bersabda, “Banyak perbuatan/amal yang tergolong amalan keduniaan, tapi karena didasari niat yang baik (ikhlas) maka menjadi/tergolong amal-amal akhirat. Sebaiknya banyak amalan yang sepertinya tergolong amal akhirat, tapi ternyata ia tergolong amal dunia, karena didasari niat yang buruk (tidak ikhlas).” (Al-Hadits)
Allah berfirman : “Jika bermaksud hamba-Ku dengan satu kebaikan dan tidak dikerjakannya, maka Aku tetapkan baginya sebagai satu kebaikan. Dan jika dikerjakannya maka Aku tulis (tetapkan) dengan sepuluh kebaikan hingga 700 kali. Dan jika bermaksud untuk melakukan keburukan dan tidak dikerjakannya maka Aku tidak menetapkan baginya satu keburukan. Maka jika dia mengerjakan keburukan itu maka Aku tetapkan baginya dengan satu kebaikan.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Sudut Pandang Terhadap Tulisan Bermakna
Sisi Psikologis

         Tulisan Bermakna mengandung anjuran kebaikan, sehingga akan menghasilkan pribadi-pribadi yang dominan terhadap kebaikan. 
Sisi Islami
         Disinilah menjadi amal kebaikan, namun jika Tulisan Bermakna disertai dengan niat mengharap imbalan semata, tentu saja hanya akan mendapatkan pahala untuk di dunia saja. Namun jika Tulisan Bermakna tanpa disertai niat mengharap imbalan atau istilahnya secara ikhlas sehingga akan mendapatkan pahala di dunia dan di akhirat. Subhanallah. 

         Nah, sebelumnya kita sudah membahas tulisan bermakna. 
Lantas apa, maksud Tulisan Indah Sesaat itu? 
         Tulisan Indah Sesaat merupakan tulisan yang mengandung mendalam, luas, serta dominan terhadap kemaksiatan, keburukan, dan anjuran tipu daya gemerlap dunia. Misalnya; Penjantan 1 dan 2, Pesta Seks, Kesepian, dan sebagainya.

         Orang yang menulis tulisan indah sesaat akan mendapatkan dosa karena secara tidak langsung mengajak atau merangsang hawa nafsu pembaca untuk berbuat semacam yang tertulis dalam tulisan indah sesaat tersebut. Dan dosanya dua kali lipat loh, selain menanggung dosa sendiri juga menanggung dosa orang yang mengikutinya. Beuh, ndak mau kan? Maka dari itu, jika kalian yang menulis tulisan indah sesaat sudah saatnya untuk sadar, bahwa tulisan indah sesaat bukan hanya merugikan diri sendiri bahkan bisa merugikan untuk orang lain pula. Sebagaimana dalam hadits dibawah ini;

“Barangsiapa yang membuat kebaikan (sunnat) dalam Islam maka baginya akan mendapatkan ganjaran serta ganjaran orang-orang yang mengikuti sesudahnya tanpa dikurangi ganjaran sedikitpun. Dan barangsiapa membuat dalam Islam satu perbuatan yang buruk, maka baginya akan mendapatkan dosa ditambah dosa orang-orang yang mengikuti sesudahnya itu.” (HR. Muslim). 

         Jadi, lebih baik meninggalkan obsesi dalam menulis tulisan indah sesaat daripada menanggung dosa dua kali lipat, sekalipun itu membuat diri puas karena bisa meluapkan nafsu namun psikologisnya akan berpengaruh buruk terhadap diri sendiri sebagai bukti atas kemaksiatan terhadap Allah dan tak akan bisa memungkirinya karena ada tulisan indah sesaat tersebut yang biasanya dari pengalaman pribadi atau orang lain. Dan berpengaruh buruk terhadap orang lain bisa mengikutinya, selain itu menanggung dosa orang yang mengikuti tersebut tanpa sepengetahuan kita. Sudahkah kita berpikir, untuk mengakhiri tulisan indah sesaat ? Jika kalian masih saja membuat tulisan indah sesaat, nikmatilah azab Allah yang Maha Dashyat dan penyesalan akan selalu hadir dalam akhir kisah. Astagfirulloh Al ‘Adzim. 

Balasan perbuatan akan sesuai seperti yang dikerjakan sewaktu hidup didunia baik perbuatan buruk maupun perbutan baik. Sebagaimana bunyi Kitab Suci Al-Qur’an :

“Bagaimanakah nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan tentang adanya. Dan tiap-tiap diri balasan bagi apa yang diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya”. (QS. Ali Imran [3] : 25) 

         Kiamat memang kepastian yang tak diragukan lagi, dan kita sudah seharusnya sadar atau bahkan menyadarkan hati dan pikiran yang telah beku dalam menerima kebaikan atau kenyataan yang ada oleh perubahan waktu. Semoga Allah selalu memberikan hidayah dan taufiknya kepada kita sebagai makhluk ciptaan Allah Sang Pencipta. Amien. 

         Janganlah mengikuti hawa nafsu, karena sesungguhnya kejahatan atau keburukan datang dari ajakan atau dorongan dari nafsu tersebut. Dan diperintahkan oleh Allah berhati-hati dalam menjalani hidup ini. Sebagaimana dalam Al-Qur’an :

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa yang diingini, yaitu wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas dan perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak*) dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran [3] : 14)

         *) Yang dimaksud dengan binatang ternak disini adalah bianatang-binatang yang termasuk jenis unta, lembu, kambing, dan biri-biri.

         Dan usahakan kita tidak membaca Tulisan Indah Sesaat agar tidak menyebar ke dalam diri pengaruh buruk yang sangat kuat bagaikan bakteri yang melekat dalam tubuh secara perlahan akan merusak sel-sel tubuh. Dan keburukan akan merusak kepribadian berupa jiwa dan raga kita di dunia atau bahkan hingga akhirat. 

         Akhirnya, selesai pula-lah tulisan kali ini yang membahas Dua Sisi Diantara Tulisan Bermakna dan Tulisan Indah Sesaat. Semoga menghasilkan amal kebaikan akhirat untuk penulis utamanya dan untuk semua pembaca umumnya.

Sumber Pustaka :

Bahresi, Husein. Hadits Shahih Bukhari – Muslim – Al – Jamius Shahih. CV. Karya Utama, Surabaya.

Depatermen Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahnya, Juz 1 – Juz 30. Penerbit PT. Kumudasmoro Grafindo Semarang

Zarnuji, Syaikh. Terjemah Ta’lim Muta’allim Tariqatta’allum. Penerjemah: Abdul Kadir Aljufri. Penerbit Mutiara Ilmu, Surabaya. 


Sumber Arsip Artikel:
Hussein, Muhammad Adam. Hitam Putih dalam Menulis. 

Sumber Pustaka dalam Buku:
Hussein, Muhammad Adam. Hitam Putih dalam Menulis dalam Buku Kumpulan Kupas Tuntas Fenomena Remaja. Penerbit CV. Adamssein Media, Sukabumi. Cetakan 1, 10 Desember 2011. Hal. 13 - 20.


2 komentar untuk "Hitam Putih dalam Menulis"

  1. saya jadi ingin ganti tulisan saya dengan tulisan - tulisan bermakna
    jadi amal yang terus menerus ya. disisipi ah sedikit-sedikit

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sip silahkan mas, alhamdulillah kalau terinspirasi dan termotivasi.

      Hapus
loading...
loading...



Teh Celup Herbal Bidara Ruqyah

KLIK GAMBAR UNTUK PEMBELIAN/PEMESANAN

Berlangganan via Email