Hilangnya Kalbumu

Hilangnya Kalbumu
          Karya Cipta: Kustanti Nurul Ulva (valiyuminiy@ymail.com)     
Editor: Muhammad Adam Hussein, S.Pd


Hilangnya Kalbumu ini sebuah karya asli yang alami dari curahatan hati dari seorang siswi. Kalau dinilai oleh Muhammad Adam Hussein, S.Pd ini termasuk sajak ciri khasnya menceritakan sesuatu yang terjadi untuk dijadikan bahan perenungan. Jarang sekali sebetulnya yang masih remaja menggunakan khayalan demi menganalisa suatu kejadian sekitarnya. Cukup bijak karena belajar menggunakan akal dengan cermat sehingga yang terlupakan oleh seseorang menjadi inspirasi oleh Kustanti untuk dijadikan karya sastra yang cukup berbobot.



Aku melihat pohon-pohon layu,
Aku melihat ranting-ranting mongering,
Aku melihat angin berlarian,
Aku melihat langit menangis.

Ilustrasi Hilangnya Kalbumu Oh Buta Hati
Ilustrasi Hilangnya Kalbumu Oh Buta Hati
[klik gambar untuk memperbesar]

Sebenarnya apa yang terjadi?
Mengapa ini bisa terjadi?
Kalbuku berkata,
Ini semua karena hilangnya akhlak manusia.

Ini semua karena mereka tak takut dengan Tuhan,
Aku tak mengerti kenapa semua ini bisa terjadi,
Anak yang seharusnya menghormati orang tua,
Ia malah memukul pundak mereka.

Siswa yang seharusnya belajar,
Ia malah berlari pergi,
Seakan ketakutan.

Ilustrasi Buta Hati Hilangnya Kalbumu
Ilustrasi Buta Hati Hilangnya Kalbumu[klik gambar untuk memperbesar]


Teman,
Apa yang akan terjadi?
Jika kau terus seperti ini?
Apa yang akan terjadi?
Jika tak kau ubah jalanmu.

Bangsa akan malu mengakuimu,
Langit akan pergi meninggalkanmu,
Laut akan membakarmu,
Dan samudera akan menangisimu.


Kustanti Nurul Ulva
SMK Muhammadiyah Salaman
Jl. Raya No. 42 Kabupaten Magelang 56162

Silahkan berikan komentarmu, agar Kustanti ini berkembang gaya bahasanya. Yang berjudul Hilangnya Kalbumu termasuk ke dalam golongan Sajak Alam.


SUMBER ARSIP

Kustanti Nurul Ulva. November 2012. Hilangnya Kalbumu.

1 Komentar untuk "Hilangnya Kalbumu"

  1. Muhammad Adam Hussein9 November 2012 13.11.00 WIB

    Puisi Hilangnya Kalbumu menurut Muhammad Adam Hussein. Dari pengungkapan isi pesan moralnya kuat, pemilihan kata (diksi) masih kurang tepat sehingga masih ada saya edit, dan untuk sarannya kalau ingin tergolong puisi harus mempunyai irama akhiran bunyi yang sama. Misalnya: baris pertama akhir bunyinya a, barisnya kedua juga berakhiran a, dan bila baris ketiganya berakhiran u maka baris keempatnya juga harus berakhiran u. Baik itu huruf mati maupun huruf hidup, harus serasi agar nilai kualitas puisinya sangat mendalam saat dibaca.

    BalasHapus

BACALAH SEBELUM BERKOMENTAR

Dilarang berkomentar dengan akun Unknow, akun Profil Tidak Tersedia, akun yang tidak dengan nama asli. Dilarang berkomentar dengan menaruh link didalam komentar baik link hidup maupun link mati.

Kenapa?
Karena kami tidak akan menayangkan komentar-komentar tersebut. Kami hanya menayangkan komentar yang relevan dengan isi pembahasan artikel dan komentar yang berbobot dan bermanfaat.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Teh Celup Herbal Bidara Ruqyah

Rp. 30.000 (isi 25 celup/belum ongkir)

PESAN MELALUI WHATSAPPS : 08997527700